Minggu, 17 Juli 2011

Pengertian 'Ulumul Hadis

PENGERTIAN 'ULUMUL HADIS
Oleh: Drs. P.M. Gunawan Nst.

A. Pendahuluan

Pada dasarnya 'ulumul Hadis berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu kata 'ulum dan kata al-Hadis. 'Ulum berasal dari kata 'ilmu dan al-Hadis artinya segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw, baik itu berupa ucapan, perbuatan, ketentuan dan diamnya. Maka jika dikatakan 'ulumul Hadis, maka maksudnya adalah ilmu Hadis. Begitulah pengertian 'ulumul Hadis dari segi bahasa, namun perlu diperhatikan dari segi istilah yang berikut ini akan kita urai dalam pengkajian.

B. Pengkajian

Untuk mengurai pengertian 'ulumul Hadis, tidak cukup diurai hanya dari segi bahasanya saja, kita perlu uraian lebih rinci dari para ulama hadis, untuk mendekatkan kita pada pengertian seperti uraian yang telah dimengerti oleh para 'ulama Hadis, dengan berbagai istilah yang sering mereka ajarkan ke kita lewat berbagai buku yang telah mereka tulis terlebih dulu sebagai data kongkrit buat kita dalam merujuk ilmu-ilmu mereka berikut ini:

1. Menurut Ahmad Muhammad Yusuf
Dalam hal ini beliau mengatakan bahwa ilmu hadis digunakan untuk dua arti:
Pertama:
Untuk nama suatu pemindahan dan periwayatan apa-apa yang didasarkan kepada Rasulullah saw. Ilmu Hadis yang mempunyai pengertian seperti ini dinamakan "Ilmu Hadis Riwayat".
Kedua:
Digunakan untuk suatu nama metode atau sistim yang meneliti cara muttasilnya hadis dipandang dari keadaan para perawinya, dhabit dan 'adalahnya, dan dari segi keadaan sanadnya, muttasil atau munqathi'. Ilmu Hadis dengan arti ini dikenal dengan "Ilmu Hadis Rirayah".1

2. Mahmud al-Thahhan
'Ulum al-Hadis terdiri atas dua kata, yaitu 'ulum dan al-Hadis. Kata 'ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari 'ilm, berarti ilmu-ilmu. Sedangkan al-Hadis di kalangan Ulama Hadis berarti "segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw dari perkataan, perbuatan, sikap, keputusan, atau sifat."2

3. Menurut Prof. Dr. Nawir Yuslem MA
Gabungan kata 'Ulum al-Hadis mengandung pengertian "ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadis Nabi saw".3

4. Menurut Imam 'Izza ad-Din
'Ulumul Hadis adalah ilmu yang membahas pedoman-pedoman yang dengannya dapat diketahui keadaan sanad dan matan.4

5. Menurut Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy MA
Ilmu Hadis yakni ilmu yang berpautan dengan hadis.5

Kemudian 'ulumul Hadis terbagi menjadi dua, yaitu ilmu hadis dirayah dan ilmu hadis riwayah, dengan pengertian sebagai berikut:

Pengertian 'Ulumul Hadis Dirayah
Ilmu yang membahas makna-makna yang difahamkan dari lafal-lafal hadis dan yang dikehendaki dari sesuatu lafal dan jumlah, dengan bersandar kepada aturan-aturan bahasa Arab dan qaidah-qaidah Agama dan sesuai dengan keadaan Nabi saw.6

Pengertian 'Ulumul Hadis Riwayah
Ilmu yang membahas kelakuan persambungan hadis kepada Shahibur Risalah, junjungan kita Muhammad saw dari jurusan kelakuan para perawinya, mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka, dan dari jurusan keadaan sanad, putus dan bersambungnya, dan yang sepertinya.7

C. Kesimpulan

Dari kajian di atas, penulis menyimpulkan bahwa 'Ulumul Hadis memiliki pengertian "ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan sanad dan matan hadis, baik itu berupa kesahihannya, kehasanannya, keda'ifannya, dan lain sebagainya, sehingga diketahui hadis mana yang layak dijadikan dalil dan yang tidak layak dijadikan dalil sesuai dengan kebutuhan umat di zaman masing-masing.

Referensi:
1. Ahmad Muhammad Yusuf LC, Ensiklopedi Tematis Ayat Alquran Dan Hadis (Jakarta: Widya Cahaya, 2009), h. xxii.
2. Mahmud al-Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadis (Beirut: Dar al-Quran al-Karim,1979), h. 14.
3. Prof. Dr. Nawir Yuslem MA, Ulumul Hadis (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001), h. 1.
4. Izza ad-Din dalam Jalal ad-Din, Tadrib al-Rawi fi Syarh al-Taqrib al-Nawawi (Beirut: Dar al-Fikri, 1988), h. 41.
5. Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 150.
6. Al-Turmasy dalam Ibid, h. 151.
7. Ibid, h. 150.

Rabu, 26 Mei 2010

Bahtera Kehidupan


Kiyai Muda Online: "Hidup ini tak ubahnya bagai bahtera di tengah lautan, ada kalanya menghadapi pasang surut dan ada kalanya berhadapan dengan gelombang pasang. Tatkala pasang surut tiba, perbanyaklah bersabar, agar tatkala bahtera melaju pesat karena memburu target, bahtera tidak ketubruk karang. Namun tatkala gelombang pasang menghadang, perbanyaklah bertawakkal, agar tidak terjadi mati akal, dengan begitu bahtera tidak terjungkal. Tetaplah pegang teguh nakhoda, sesuaikan pada kompas perjalanan, seiring perjelas peta perjalanan yang hendak dilalui dan jangan lupa tetapkan pulau tujuan, agar tidak tersesat jalan menggapai impian." www.kiyaimudaonline.blogspot.com

Selasa, 17 November 2009

Tugas Mahasiswaku

Kiyai Muda Online: Dari Mas Gun diinformasikan tentang tugas pembuatan makalah mahasiswa Semester I (satu) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Sibolga Tahun Akademi 2009/2010, judul disesuaikan dengan nomor urut pada absen di lokal masing-masing sebagaimana tercantum di bawah ini:

1. Study Tentang Pengertian Al-Hadits Dan 10 Contoh Al-Hadits.
2. Study Tentang Pengertian Assunnah Dan 10 Contoh Hadits Sunnah.
3. Study Tentang Pengertian Khobar Dan 10 Contoh Hadits Khobar.
4. Study Tengang Pengertian Atsar Dan 10 Contoh Hadits Atsar.
5. Study Tentang Hadits Qouli Dan 10 Contohnya.
6. Study Tentang Hadits Fi'li Dan 10 Contohnya.
7. Study Tentang Hadits Hammi Dan 10 Contohnya.
8. Study Tentang Hadits Ahwali Dan 10 Contohnya.
9. Study Tentang Ilmu Hadits.
10. Study Tentang 'Ulumul Hadits.
11. Study Tentang 'Ulum Al-Hadits.
12. Ilmu Riwayatul Hadits.
13. Ilmu Dirayatul Hadits.
14. Ilmu Rizalul Hadits.
15. Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta'dilul Hadits.
16. Ilmu Tarikh Ar-Ruwatul Hadits.
17. Ilmu 'illatul Hadits.
18. Ilmu An-Nasikh Wa Al-Mansukhil Hadits.
19. Ilmu Asbabul Wurudil Hadits.
20. Ilmu Ghoribul Hadits.
21. Ilmu At-Tashif Wat Tahriful Hadits.
22. Ilmu Mukhtaliful Hadits.
23. Ilmu Sanadil Hadits.
24. Ilmu Matanil Hadits.
25. Ilmu Rawiyul Hadits.
26. Sanad.
27. Matan.
28. Rawi.
29. Kedudukan Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam.
30. Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur'an.
31. Al-Hadits Sebagai Bayanul Taqrirul Qur'an.
32. Al-Hadits Sebagai Bayanul Tafsirul Qur'an.
33. Al-Hadits Sebagai Bayanul Tasyri'ul Qur'an.
34. Al-Hadits Sebagai Bayaul Nasikhul Qur'an.
35. Sejarah Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW.
36. Sejarah Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat Rasul.
37. Sejaran Perkembangan Hadits Pada Masa Tabi'in.
38. Sejarah Perkembangan Hadits Pada Masa Tabi' Tabi'in.
39. Sejarah Perkembangan Hadits Pada Masa Kodifikasi Hadits.
40. Sejarah Perkembangan Hadits Pada Masa Penyempurnaan dan Pengembangan Sistem Penyusunan Kitab-Kitab Hadits.
41. Pembagian Hadits Dari Segi Kuantitasnya.
42. Pembagian Hadits Dari Segi Kualitasnya.
43. Hadits Maqbul Dan 10 Contohnya.
44. Hadits Mardud Dan 10 Contohnya.
45. Hadits Shahih Dan 10 Contohnya.
46. Hadits Shahih Dan 10 Contohnya.
47. Hadits Hasan Dan 10 Contohnya.
48. Hadits Dha'if Dan 10 Contohnya.
49. Hadits Maudu' Dan 10 Contohnya.
50. Sistematika Penerimaan Hadits.
51. Sistematika Periwayatan Hadits.
52. Sejarah Peranan Wanita Dalam Periwayatan Hadits.
53. Sejarah Perkembangan Pemikiran 'Ulumul Hadits Pada Zaman Klasik.
54. Sejarah Perkembangan Pemikiran 'Ulumul Hadits Pada Zaman Pertengahan.
55. Sejarah Perkembangan Pemikiran 'Ulumul Hadits Pada Zaman Modernisasi.
56. Signifikasi Perkembangan Pemikiran 'Ulumul Hadits.
57. Sejarah Pemikiran 'Ulumul Hadits Di Indonesia.
58. Sejarah Pemikiran 'Ulumul Hadits Di Sibolga.
59. Sejarah Pemikiran 'Ulumul Hadits Di Tapanuli Tengah.
60. Biografi Singkat Para Ahli Hadits Dari Zaman Ke Zaman.

Keterangan lebih lanjut akan disampaikan dalam pertemuan kuliah dan saya sampaikan selamat bekerja semoga sukses menjadi peneliti religius. Tugas sudah dikumpul paling lambat 7 hari sebelum ujian semester.

Jumat, 02 Oktober 2009

41 Istilah Penting 'Ulumul Hadits

1. Ilmu Musthalah Hadits :
Ilmu dengan ushul (landasan-landasan) dan kaidah–kaidah yang dengannya diketahui keadaan sanad dan matan dilihat dari sisi diterima atau ditolak. Pembahasannya adalah sanad dan matan dari sisi diterima atau ditolak. Faidahnya adalah membedakan antara hadits yang shahih dari yang dha’if.

2. Hadits
Etimologis : Sesuatu yang baru, lawan dari alqadim (lama), bentuk jamaknya Ahadits
Terminologis : Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw baik perkataan, perbuatan, penetapan ataupun sifat.

3. Atsar
Etimologis : Sisa dari sesuatu, bentuk jamaknya al-aatsaar
Terminologis : Segala sesuatu yang disandarkan kepada para Sahabat dan Tabi’in.

4. Riwayat
Etimologis : Bentuk mashdar dari kata kerja rowa yang artinya menukil dan menceritakan
Terminologis : Ilmu menukil berbagai sabda Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam dan perbuatannya dengan rentetan pendengar, menghafal, penelitian dan menuliskannya.

5. Dirayat
Etimologis : Bentuk mashdar dari kata kerja daroo yang artinya mengetahui
Terminologis : Ilmu yang dengannya diketahui macam – macam riwayat dan hukum – hukumnya, syarat–syarat perawi, tingkatan–tingkatan objek riwayat dan menguraikan makna – maknanya.

6. Mutawatir
Etimologis : Bentuk isim fa’il dari kata tawaataro yang artinya bertutut–turut
Terminologis : Hadits yang diriwayatkan banyak perawi dan menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat atas kedustaan.

7. Hadits Aahad
Etimologis : Aahad bentuk jamak dari ahad yang berarti satu, yaitu awal bilangan
Terminologis : Hadits yang tidak terkumpul padanya syarat–syarat Mutawatir

8. Hadits Qudsi
Terminologis : Hadits yang sanadnya adalah Nabi Muhammad saw bersambung kepada Allah Swt.
Maka diriwayatkan oleh Nabi Muhammad bahwa itu adalah Kalamullah.

9. Sanad
Etimologis : Sesuatu yang jadi sandaran
Terminologis : Jalan yang sampai kepada matan. Atau juga : rangkaian perawi yang sampai kepada matan

10. Matan
Etimologis : Bagian dari tanah tinggi yang keras
Terminologis : Kalam (perkataan) yang didahului sebelumnya oleh akhir sanad

11. Syadz
Etimologis : Yang sendirian yaitu menyendiri dari orang banyak
Terminologis : Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang maqbul ( diterima riwayatnya ) tapi menyelisihi orang yang lebih utama atau lebih kuat darinya.

12. Al – ‘Illah
Etimologis : Penyakit. Jamaknya ‘Ilal
Terminologis : Penyebab yang tersembunyi dan tidak jelas yang bisa merusak kashahihan hadits.

13. Hadits Shahih
Etimologis : Shahih antonim dari kata saqim (sakit)
Terminologis : Hadits yang tersambung sanadnya dengan diriwayatkan oleh rawi yang adil dan sempurna hafalannya dari rawi sepertinya sampai akhir, tanpa ada keganjilan (syadz) dan cacat (illat).

14. Hadits Hasan
Etimologis : Hasan adalah sifat yang berarti perhiasan dan keindahan
Terminologis : Hadits yang tersambung sanadnya dengan diriwayatkan oleh rawi yang adil dan ringan hafalannya dari rawi sepertinya sampai akhir, tanpa ada keganjilan (syadz) dan cacat (illat).

15. Hadits Dha’if
Etimologis : Dha’if adalah antonim dari kata qowie (kuat).
Terminologis : Hadits yang tidak terhimpun padanya semua syarat hasan dikarenakan kehilangan salah satu syarat hasan.

16. Hadits Maudhu’
Etimologis : Bentuk isim maf’ul dari kata kerja wadho’a yang artinya turun atau menurunkan, lawan kata dari Rofa’a (naik, menaikkan).
Terminologis : Kebohongan yang diada–adakan dan dibuat–buat kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah Muhammad saw dengan sengaja.

17. Marfu’
Etimologis : Bentuk isim maf’ul dari kata ar-raf’u (tinggi), antonim dari kata wadho’a (= turun, rendah) Sepertinya dinamakan marfu’ seperti itu karena dinisbatkan kepada pemilik kedudukan yang tinggi yaitu Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam.
Terminologis : Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam baik perkataan, perbuatan, penetapan ataupun sifat, baik sanadnya muttasil (tersambung) atau munqathi’ (terputus).

18. Mauquf
Etimologis : Bentuk isim maf’ul dari kata kerja waqofa yang artinya diam dan berdiri.
Terminologis : Segala sesuatu yang disandarkan kepada Shahabat radiyallahu 'anhum baik perkataan, perbuatan ataupun penetapan.

19. Maqthu’
Etimologis : Bentuk isim maf’ul dari kata qotho’a, dimana dia adalah antonim dari kata washola (menyambung).
Terminologis : Segala sesuatu yang disandarkan kepada Tabi’in atau yang dibawah mereka baik perkataan ataupun perbuatan.

20. Al - Jarh
Etimologis : Bentuk mashdar dari kata kerja jaroha yang artinya memberikan bekas luka pada tubuh akibat senjata.
Terminologis : Suatu sifat jika ada pada seorang perawi, maka hilanglah penghargaan atas ucapannya dan batallah mengamalkan riwayatnya.

21. At - Ta'dil
Etimologis : Bentuk mashdar dari kata kerja ‘addala yang artinya menegakkan dan meluruskan.
Terminologis : Menyifati seorang rawi dengan apa–apa yang mengharuskan riwayatnya diterima.

22. Al–Musnid
Terminologis : Orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik ia berilmu tentang hadits itu ataupun tidak, namun hanya sekedar meriwayatkan.

23. Al–Muhaddits
Etimologis : Bentuk isim fa’il dari kata at-tahdiits yang artinya membicarakan dan mengabarkan
Terminologis : Orang yang menyibukkan diri dalam ilmu hadits baik secara riwayat ataupun dirayat, dan ia memiliki ilmu tentang ilmu rijal (para rawi), biografi mereka, jarh dan Ta'dil mereka.

24. Al–Hafidz
Etimologis : Bentuk isim fa’il dari kata kerja hafidzo yang artinya penghafal
Terminologis : Orang yang derajatnya lebih tinggi dari Muhaddits. Ada pendapat lain bahwa al – Hafidz yaitu orang yang menguasai pengetahuan seratus ribu hadits. Ada juga yang mengatakan bahwa dia sama dengan Muhaddits.

25. Al–Hujjah
Etimologis : Dalil dan penjelasan
Terminologis : Orang yang derajatnya lebih tinggi dari al-Hafidz. Ada pendapat lain bahwa al – Hujjah adalah orang yang hafal tiga ratus ribu hadits beserta sanadnya.

26. Al–Hakim
Etimologis : Bentuk isim fa’il dari kata kerja hakama yang berarti memutuskan
Terminologis : Orang yang menguasai semua ilmu dalam hadits yang teriwayatkan dari aspek matan dan sanad hingga tidak ada yang luput kecuali sedikit saja.

27. Syaikhul Islam
Julukan ini adalah julukan tertinggi bagi para ahli hadits. Orang yang terkenal dengan julukan ini adalah Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah, dan yang lainnya.

28. Amirul Mukminin Fil Hadits
Julukan ini adalah julukan tertinggi di kalangan para perawi. Orang yang diberi julukan ini adalah orang yang di zamannya terkenal hafalan dan pengetahuannya tentang ilmu hadits. Sehingga jadilah orang itu orang paling berpengetahuan di zamannya dan para imam di zamannya. Seperti : Sufyan at-Tsauri, Malik bin Anas, muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahumullah

29. Al – ‘Abadilah
Mereka adalah empat orang Shahabat yang sangat terkenal dengan nama Abdullah.
Mereka adalah :
- Abdullah bin Umar
- Abdullah bin Abbas
- Abdullah bin Zubeir
- Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhum ‘ajma’in

30. Takhrij
Etimologis : Bentuk mashdar dari kata kerja khorroja yang berarti : mengeluarkan
Terminologis : Ilmu yang menyebutkan sumber–sumber asli hadits, baik dengan menetapkan hukum untuknya atau tidak.

31. Tsiqoh
Terminologis : Orang yang memiliki dua sifat, yaitu adil dan dhabit menurut pendapat yang masyhur.

32. As – Sunan
Etimologis : Bentuk jamak dari as-sunnah. Sunnah adalah perilaku yang baik ataupun yang buruk
Terminologis : Kitab – kitab yang disusun membahas bab–bab tentang fiqih.

33. Shahih Al–Isnad
Istilah ini dimutlakkan atas isnad yang terpenuhi tiga syarat sebagai shahihnya, yakni : sanad yang bersambung, para perawi yang kuat hafalannya dan para perawi yang adil. Maka ungkapan Shahih Al–Isnad ditetapkan untuknya. Tapi keshahihan isnad tidak mesti menunjukkan kashahihan matan.

34. Hadits al-‘Ali
Etimologis : Bentuk isim fa’il dari kata al-‘Uluw yang artinya : yang di atas, dia antonim dari kata an–Nuzul (yang rendah).
Terminologis : Hadits yang lebih sedikit jumlah perawinya bila dibandingkan dengan sanad lain yang menyebutkan hadits tersebut dengan jumlah perawi yang lebih banyak.

35. Hadits an – Naazil
Etimologis : Bentuk isim fa’il dari kata nazala yang berarti turun.
Terminologis : Hadits yang lebih banyak jumlah perawinya bila dibandingkan dengan sanad lain yang menyebutkan hadits tersebut dengan jumlah perawi yang lebih sedikit.

36. Al – Gharib
Etimologis : Sifat Musyabbahah yang berarti orang yang menyendiri atau yang jauh dari kerabatnya.
Terminologis : Hadits yang diriwayatkan oleh satu perawi saja.

37. Ilmu Rijal
Ilmu dimana keadan para perawi dapat diketahui dengan ilmu tersebut, lalu dapat diputuskan jarh dan Ta'ala’dil terhadap mereka.

38. Muttafaq ‘Alaih
Maksud Muttafaq ‘Alaih adalah kesepakatan dua Syaikh : Bukhari dan Muslim pada keshahihan hadits, bukan kesepakatan umat. Tapi Ibnu Sholah mengatakan : “Tapi kesepakatan umat otomatis terbentuk dengan adanya kesepakatan dua syaikh tersebut. Karena umat telah sepakat untuk menerima apa yang di sepakati keduanya”

39. Mukhtalif al-Hadits
Etimologis : Mukhtalif bentuk isim fa’il dari kata ikhtilaf yang berarti perbedaan. Antonim dari kata ittifaq (= kesepakatan )
Terminologis : Hadits yang maqbul ( diterima ) yang berlawanan dengan hadits yang semisalnya, tapi masih dimungkinkan adanya aljam’u ( penggabungan dan penyerasian antara keduanya )

40. Nasikh dan Mansukh
Etimologis : Nasikh adalah bentuk isim fa’il sedangkan mansukh adalah bentuk isim maf’ul dari kata nasakho yang berarti menghilangkan dan menukil. Semuanya masuk pada bab Naskh.
Terminologis : Nasikh adalah Menghilangkan hukum syar’i dengan dasar dalil syar’i yang datang belakangan darinya.
Nasikh adalah sesuatu yang menunjukkan kepada penghilangan yang telah disebutkan. Sedangkan mansukh adalah hadits yang dinaskh oleh hadits yang datang belakangan darinya

41. Thabaqah
Etimologis : Generasi setelah generasi atau suatu kaum yang seangkatan dalam pada umur dan masa. Juga dipakai dalam arti tingkat dan derajat.
Terminologis : Suatu sebutan di kalangan ahli hadits tentang suatu kelompok yang berserikat dalam umur dan bertemu dengan para syaikh.

Wallahu A'lam

Minggu, 17 Mei 2009

Pertolongan Kiyai Muda

Kiyai Muda Online: "Dewasa ini 1001 peristiwa ganjil telah terjadi di jagat Allah ini, mengakibatkan 1001 efek positif bagi mereka yang kuat mental menghadapinya, namun 1001 efek negatif pula telah terjadi bagi mereka yang memiliki mental di bawah rata-rata. Bukan niat saya menakut-nakuti anda, tetapi realita berbagai peristiwa yang telah terjadi di jagat Allah ini yang telah berbicara, sebab jagat ini berbicara bukan harus lewat mulut saja, tetapi ada kalanya jagat ini berbicara lewat penampilan berbagai peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Namun peristiwa itu suatu hal yang lumrah di sisi Allah, sebab Dia lah yang telah mensetting segalanya, di tanganNya segala peristiwa seperti yang telah diprogramkan Allah dalam Al-Kitab Qur'an sebagai kitab tertulis dari Allah yang tidak pernah berselisih dengan induk Kitabullah yang terdapat di alam goibullah (Lauhil Mahfuzh). Segala peristiwa pastilah bersesuaian dengan apa yang Allah kehendaki, sebab hanya Dia lah sesungguhnya yang sangat berhaq dalam segala kehendak.

Namun saya punya satu keyakinan, bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menghendaki terjadinya peristiwa negatif menimpa manusia, kecuali jika manusia itu dajjal kepada Allah dan kepada segala yang Allah cintai, maka membuat Allah jadi murka.

Penyakit yang anda alami, jika telah berobat ke sana ke mari, namun tidak juga sembuh, maka saya sarankan hubungi saya, agar saya bukakan pintu menuju penyelarasan kehendak hati dan fikiran anda dengan kehendak pada sisi Allah. Dengan cara ini saya yakin insya Allah masih ada harapan kesembuhan untuk anda, dengan syarat:

1. Ikhlash bertaubat kepada Allah SWT.
2. Ikhlash beriman kepada Allah SWT.
3. Ikhlash ta'at dan taqwa kepada Allah SWT.
4. Sabar selama berobat sampai sembuh.
5. Kalau sudah sembuh harus bertekat untuk selalu dekat kepada Allah.

Jika 5 syarat di atas dapat anda penuhi lahir batin, insya Allah saya akan dapat membantu anda mengobati 1001 penyakit dan problema hidup anda sampai sembuh dan sampai normal 100%.

Hubungi Saya: KIYAI MAS GUN
Hp : 085276600050
Alamat Saya : Jl. Zainal Arifin, Gg. Apple, Budi Luhur, Pandan, Tap-Teng, Sumut, Indonesia.

Demikian saya sampaikan, semoga informasi ini bermanfaat buat anda." www.kiyaimudaonline.blogspot.com

Sabtu, 09 Mei 2009

Perang Abadi


Kiyai Muda Online: Di dunia ini ada dua blok yang terus menerus saling bertempur sejak Adam `Alayhissalam diturunkan ke dunia sampai hari kiamat nanti. Al Qur`an mengistilahkan pertempuran itu antara blok Hizbullah (tentara Allah) dengan blok Hizbusy Syaithaan (tentara setan). Ciri-ciri Hizbullah adalah sebagaimana yang Allah beritakan dalam surat Al Mujadalah 19 dan hizbusy Syaithaan diberitakan didalam surat yang sama ayat 22:

“Syaithan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah hizbusy syaithaan (golongan syaitan). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.” (Al Mujadalah 19)

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah hizbullah (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung.” (Al Mujadalah 22)

Hizbullah dipimpin oleh Allah yang pimpinan hariannya adalah para Nabi dan para Rasul. Kemudian setelah wafatnya para Nabi dan Rasul, kepemimpinan harian Hizbullah digantikan oleh pewaris para Nabi yakni ulama. Dimana para `ulama ialah pewaris ilmu dan amalnya para nabi dan rasul. Dalam hal ini rasulullah Shalallahu `layhi Wasallam bersabda:”Para ulama adalah pewaris para nabi, namun mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan tersebut ”.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya

Adapun hizbusy syaithaan, pimpinannya ialah iblis la`natullah `alaihi, yang kepemimpinan hariannya dijalankan oleh para thaaghuut yang disebutkan tadi ciri-cirinya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah: ”yakni semua pihak yang menjadi sebab hamba Allah melanggar ketentuan Allah maka ia thaaghuut apakah dalam bentuk sesembahan, tokoh yang diikuti atau pimpinan yang diataati”.

Peperangan abadi itu dimulai sejak sumpah kebulatan tekad Iblis la`natullah `Alayhi dihadapan Allah Ta`aala ketika ia diusir oleh dari surga Allah. Allah Ta`aala menukilkan ucapan Iblis didalam Al Qur`an Surat al-A’raaf ayat 16:

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”

Sumpah Iblis sang pimpinan tertinggi hizbusy syaithan ini kemudian dijalankan oleh para thaaghuut tadi dengan misi utamanya yaitu menyesatkan manusia dari jalan Allah Ta`aala.
Maka Allah Ta`aala memperkenalkan kepada kita bahwa dunia ini adalah medan perang. Genderang perang itu telah ditabuh sejak manusia pertama didunia yakni Aadam `Alayhis Salaam, dan akan terus menerus berlanjut hingga hari kiamat. Oleh sebab itu, kita memang mau tidak mau membutuhkan agama Allah ini untuk “ngeblok” ke blok yang benar. Jangan sampai kita mengambil sikap nonblok, sebab ini sikapnya orang-orang munafiq, dimana para munafiqiin bersikap tidak kesana tidak pula kemari, yakni seperti bunglon dalam beragama. sehingga sulit diketahui apakah ia itu blok hizbullah atau hizbusy syaithaan. Sikap semacam ini sangat berbahaya, oleh karena itu Allah menempatkan orang-orang munafiq di kerak neraka, karena mereka lebih parah keadaannya daripada kuffar bahkan Iblis. Na`uudzubillah min dzaalika.

Jadi kita beragama ialah untuk ngeblok kepada blok Allah (hizbullah) dan bertempur melawan hizbusysyaithan. Dan dengan tuntunan agama ini pula kita menyikapi musuh kita sebagai musuh dan kita meyikapi kawan sebagai kawan, dan membenci segala yang dibenci oleh Allah serta mencintai segala yang dicintai oleh Allah. Dengan ngeblok kepada blok yang benar, maka kita akan selamat di dunia dan akhirat dan pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang dalam pertempuran abadi ini yang diistilahkan dalam agama yaitu husnul khathimah (akhir hidup yang baik).

Bekal Yang Harus Dimiliki

Maka bekal yang harus dimiliki oleh seorang mukmin untuk berlaga di medan perang ini ialah tidak ada lain selain `ilmu Al Qur`aan dan Assunnah.sebab dengan mengerti dua perkara tersebut, maka kita akan tahu siapa lawan siapa kawan dan juga akan mengerti bagaimana cara bersikap yang benar kepada lawan dan kepada kawan. Kita harus mengerti apa yang turunkan Allah di dalam Al Qur`aan dan Assunnah. Jangan sampai keadaan kita seperti keadannya ahlul kitaab (Yahuudi dan Nashaara), dimana Allah telah menurunkan kepada mereka Al kitaab (kitabullah), namun hal itu tidak membuat hati mereka tunduk dan mengingat Allah. Allah Ta`aala berfirman dalam surat Al Hadiid ayat 16:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Dalam ayat diatas Allah Ta`ala memepringatkan kita akan adanya kemungkinan untuk kita terjerumus dalam perbuatan ahlul kitab (yahuudi dan nashara) tersebut, sehingga Allah Ta`aala membimbing kita agar selamat dari keadaan yang demikian, yakni dengan cara mempelajari Al Qur`an dan Assunnah dan mengamalkannya.

Maka hidup didunia ini tidak ada lain melainkan perjuangan dan perjuangan. Didalamnya kita bisa kalah dan juga bisa menang. Kita akan kalah ketika kita terjerumus kedalam perangkap-perangkap Iblis atau bahkan terikut menjadi tentara iblis dalam wujud manusia yang ikut serta memuluskan misi Iblis dalam menyesatkan manusia. Na`uudzubillah, Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan semacam ini. Kita berharap dapat masuk kedalam blok Hizbullah (tentara/golongan Allah) yang terus menerus istiqaamah (konsisten) berperang menghadapi berbagai makar Hizbusy Syaithaan hingga ajal menjemput, hingga akhirnya kita keluar sebagai pemenang dalam pertempuran abadi ini dan berakhir dengan predikat Husnul khathimah. Amin. Wallahu A`lamu Bishshawaab.

Sumber:

http://www.samuderailmu.wordpress.com/2008/11/05/perang-abadi/#more-143

Rabu, 06 Mei 2009

Pengertian Tauhid

Kiyai Muda Online: Tauhid adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang beriman kepada Allah, beriman kepada Malaikat Allah, beriman kepada Kitab Allah, beriman kepada Nabi dan Rasul Allah, beriman kepada datangnya hari kiamat dan beriman kepada taqdir.

Asal makna "tauhid" ialah mengi'tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah adalah "satu", tidak ada syarikat bagiNya. Sebab dikatakan ilmu tauhid ialah karena inti ilmu tauhid adalah ilmu yang menetapkan tentang sifat "wahdah" (satu) bagi Allah dalam ZatNya, wahdah dalam perbuatanNya mencipta segalanya, berdiri sendiri tanpa ada yang menciptakanNya, yang awal permulaannya tanpa ada yang mengawaliNya dan Allah pula tempat segalanya berakhir tanpa ada yang mampu mengakhiriNya.

Ilmu tauhid disebut juga dengan ilmu aqidah, teology, ilmu qalam dan ilmu iman, karena hakikat ilmu di dalamnya sama, yaitu menetapkan keesaan bagi Zat Allah dengan dalil aqli (aqal) dan naqli (nash Al-Qur'an wal Hadits). www.kiyaimudaonline.blogspot.com